Bismillah

Bismillah
Awali aktivitas anda di blog ini dengan do'a di atas :)
Showing posts with label Fakta ilmiah Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Fakta ilmiah Al-Qur'an. Show all posts

Thursday, 2 March 2017

Mengapa Kulit Manusia yang Telah Hangus Terbakar di Neraka Diganti Kembali?

Source: www.ayatilmiah.wordpress.com

Diperkirakan bahwa indra perasa dan rasa sakit tergantung pada otak. Penemuan-penemuan terbaru menemukna bahwa ada reseptor rasa sakit yang terdapat di bawah kulit. Tanpa reseptor ini manusia tidak akan dapat merasakan sakit.

Ketika seorang dokter memeriksa pasiennya yang menderita luka bakar, ia akan mengukur tingkat keparahan luka bakar pasien tersebut dengan tes pinprick. Jika pasien tersebut masih merasakan sakit, tandanya luka bakar yang dideritanya tidak terlalu dalam dan reseptor rasa sakit masih tetap utuh. Namun, jika pasien tidak merasakan sakit maka itu berarti luka yang diderita cukup parah dan reseptor nyeri yang terdapat di bawah kulit telah hancur.

Al-Qur’an ternyata telah memberikan penjelasan adanya reseptor rasa sakit tersebut sejak 14 abad yang lalu melalui ayat berikut:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

Terjemahan:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S An-Nisa: 56)

Pada ayat tersebut diebutkan bahwa setiap kali kulit hangus terbakar maka akan diganti dengan kulit yang lain. Karena sesuai dengan fakta ilmiah yang telah disebutkan di atas, suatu kulit yang telah terbakar dan mengalami kerusakan reseptor nyeri maka tidak akan dapat merasakan nyeri sama sekali. Sehingga Allah menciptakan hal tersebut sebagai bentuk azab yang akan dirasakan terus-menerus oleh orang-orang kafir selama mereka berada di neraka. 

Source: www.slideshare.net

Prof. Tejatat Tejasen, Ketua Departemen Anatomi di Universitas Chiang Mai Thailand telah menghabiskan banyak waktu untuk meneliti masalah reseptor rasa sakit ini. Awalnya ia tidak percaya bahwa Al-Qur’an telah menyebutkan hal yang merupakan fakta ilmiah ini sejak 1.400 tahun silam. Karena terkesan dengan keilmiahan Al-Qur’an tersebut, maka pada Konferensi Kedokteran yang diadakan di Riyadh, Arab Saudi beliau dengan mantap mengucapkan kalimat syahadat di depan umum dan memutuskan untuk menjadi seorang Muslim. Masya Allah.

Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Friday, 24 February 2017

Semua Makhluk Hidup Berasal Dari Air

Source: www.apparentlifestyle.com


أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Terjemahan:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Q.S Al-Anbiya: 30) 

Setelah kemajuan ilmu sains di era modern ini, kita baru mengetahui bahwa sitoplasma substansi dasar sebuah sel) 80% tersusun dari air. Penelitian modern juga mengungkapkan bahwa kebanyakan organisme, 50-90% tubuhnya terdiri dari air dan setiap makhlluk yang hidup pasti membutuhkan air. Apakah mungkin 14 abad yang lalu manusia mengetahui bahwa setiap makhluk hidup terbuat dari air? Dan apakah hal itu dapat dibayangkan oleh manusia yang hidup di padang pasir Arab di mana selalu dilanda kelangkaan air? Sungguh hal itu tidak lain menunjukkan bahwa Al-Qur’an hanya berasal dari Allah subhanahu wa ta'ala. Masya Allah. 

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

Terjemahan:
“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (Q.S Al-Furqon: 54)
Source: http://dieticle.com
Tidak hanya terbatas pada manusia, Allah juga menunjukkan bahwa hewan juga diciptakan dari air melalui ayat berikut:

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Terjemahan:
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S An-Nur: 45) 

Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Thursday, 23 February 2017

Kegelapan Di Laut Dalam

Source: www.blogs.oregonstate.edu

Prof. Durga Rao, merupakan seorang ahli geologi kelautan dan professor di Universitas King Abdul Aziz di Jeddah. dia diminta berkomentar tentang ayat ini:

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

Terjemahan:
“Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, yang di atasnya ada (lagi) awan gelap; itulah gelap gulita yang berlapis-lapis, apabila dia mengeluarkan tangannya. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. (dan) Barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikitpun.” (Q.S An-Nur: 40)

Profesor Rao mengatakan bahwa para ilmuwan sepakat dengan hal ini. Tentunya dengan bantuan peralatan yang modern untuk menyelidiki kegelapan di kedalaman laut. Manusia tidak mampu menyelam tanpa alat bantu lebih dari 20-30 meter, manusia pun tidak dapat bertahan hidup pada kedalaman lebih dari 200 meter. Ayat ini tidak dapat merujuk kepada semua lautan yang ada karena tidak setiap laut dapat digambarkan memiliki akumulasi kegelapan yang berlapis antara satu lapis dengan lapis atasnya. Ia merujuk terutama pada dalamnya lautan atau samudera, seperti yang dikatakan Al-Qur’an, ”kegelapan di lautan yang luas dan dalam”.

Kegelapan berlapis di laut dalam ini terjadi karena dua penyebab:
1. Sinar cahaya terdiri dari tujuh warna. Warna ini adalah ungu, nila, biru, hijau, kuning, oranye, dan merah. Sinar cahaya akan mengalami pembiasan ketika menabrak air. Di kedalaman 10-15 meter air menyerap warna merah. Oleh karena itu, jika seseorang menyelam di kedalaman 25 meter dan mendapat luka, ia tidak dapat melihat warna merah darahnya karena warna merah tidak bisa mencapai kedalaman ini. 

Demikian pula warna oranye yang diserap pada kedalaman 30-50 meter, kuning pada 50-100 meter, hijau pada 100-200 meter, biru pada kedalaman 200 meter, dan violet serta nila pada kedalaman lebih dari 200 meter. Warna akan hilang secara berturut-turut, satu lapis disusul lapisan yang lain. Maka, semakin dalam laut maka akan smakin gelap. Kegelapan yang sempurna dapat ditemukan pada kedalaman lebih dari 1.000 meter.

2. Sinar matahari diserap oleh awan, yang pada akhirnya menimbullkan lapisan kegelapan di bawah awan. Ini adalah lapisan pertama dari kegelapan. Ketika sinar mencapai permukaan laut maka akan terpantul dari permukaan gelombang dan memberikan efek tampilan mengkilap. Gelombang inilah yang memantulkan cahaya dan menyebabkan kegelapan.

Cahaya tidak dapat menembus kedalaman laut, karena laut memiliki dua bagian. Bagian permukaan yang ditandai dengan cahaya dan suhu hangat serta bagian dalam laut yang ditandai dengan kegelapan. Bagian permukaan dan bagian dalam dipisahkan oleh gelombang. Gelombang laut menutupi air dasar laut dan samudera. Sebab, air dasar laut memiliki kerapatan yang lebih tinggi daripada air di atasnya. Kegelapan mulai terlihat di bawah gelombang laut. Bahkan, ikan yang berada di laut yang dalam tidak bisa melihat. Satu-satunya sumber cahaya adalah berasal dari tubuh mereka sendiri.

Source: www.untamedscience.com

Al-Qur’an menerangkan hal ini dalam ayatnya
“…di atasnya ada (lagi) awan gelap; itulah gelap gulita yang berlapis-lapis,”

Maksudnya awan disini adalah yang berfungsi sebagai penghalang atas satu dengan yang lain kemudian menyebabkan kegelapan. Ini terjadi karena penyerapan warna yang terjadi pada masing-masing tingkat kedalaman.

Prof. Durga Rao menyimpulkan dengan mengatakan: “1.400 tahun yang lalu, manusia normal tidak akan mampu menjelaskan fenomena ini begitu rinci. Dengan demikian informasi ini pasti berasal dari sumber diluar batas kemampuan manusia (supranatural).” Maya Allah.

Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Wednesday, 22 February 2017

Gunung, Pasak Penjaga Stabilitas Bumi

Source: www.nationmultimedia.com

Dalam ilmu geologi, fenomena “lipatan” adalah sebuah fakta ilmiah yang belum lama ditemukan. Lipatan yang terjadi mengakibatkan terbentuknya pegunungan. Bumi tersusun atas beberapa lapisan. Bagian permukaan tempat kita hidup saat ini disebut kerak bumi, tersusun ibarat sebuah kulit yang padat. Sedangkan pada bagian dasarnya berupa cairan yang panas sehingga tidak memungkinkan terdapat kehidupan.

Diketahui juga bahwa stabilitas pegunnungan terkait dengan fenomena lipatan. Ahli geologi menyebutkan bahwa jari-jari Bumi sekitatr 3.750 mil dan lapisan kerak bumi tempat kita berpijak sangatlah tipis, hanya berkisar 1-30 mil. Karena tipisnya lapisan kerak tempat kita berpijak, maka kemungkinan untuk mengalami getaran sangat tinggi. Disinilah peran pegunungan sebagai pasak bagi kerak Bumi sehingga memberikan stabilitas bagi daratan tempat kita hidup.

Al-Qur’an dengan sempurna mendeskripsikan fenomena ini dalam ayat berikut:

(أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا(6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا(7

Terjemahan:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak. (Q.S An-Naba: 6-7)


Kata ‘awtad’ berarti pancang atau pasak (seperti yang biasa digunakan untuk mendirikan tenda), yang merupakan bagian dari sebuah lipatan. Frank Press melalui bukunya yang berjudul “Earth”, sebuah buku yang menjadi referensi dari displin ilmu geologi pada banyak universitas di dunia, menggambarkan gunung berbentuk seperti pasak. Dimana permukaan gunung yang sering kita lihat hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan gunung itu sendiri. Pada bagian bawah permukaan tanah, gunung tampak seperti akar yang menghujam sangat kuat. Press mengatakan bahwa pegunungan memainkan peran penting dalam menstabilkan kerak Bumi. Namun, sekali lagi Al-Qur’an telah lebih dahulu menyebutkan hal ini berabad-abad yang lalu melalui ayat berikut:

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

Terjemahan:
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (Q.S Al-Anbiya: 31)

Masya Allah, segala puji bagi Allah atas segala keluasan ilmu-Nya.

Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Tuesday, 21 February 2017

Sinar Bulan Merupakan Pantulan Cahaya Matahari



Peradaban dahulu meyakini bahwa bulan memancarkan cahayanya sendiri. Namun, seiring dengan perkembagnan ilmu penegtahuan, diketahui bahwa cahaya bulan merupakan pantulan cahaya. Tahukah anda, bahwa fakta ini telah disebutkann dalam Al-Qur’an 1.400 tahun silam dalam ayat berikut:

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا

Terjemahan:
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (Q.S Al Furqon: 61)

Kata untuk menunjuk matahari dalam bahasa Arab (Al-Qur’an) adalah syams. Kata ini bererti ‘siraj’ yang bermakna obor; ‘wahhaj’ yang bermakna lampu menyala; atau ‘diya’ yang bermakna sinar kemuliaan. Tiga deskripsi ini tepat untuk menyebut matahari karena ia menghasilkan panas dan cahaya oleh pembakaran internal.

Sedangkan kata bulan dalam bahasa Arab yang digunkan dalam Al-Qur’an adalah qamar. Kata ini dijelaskan Al-Qur’an sebagai ‘muniir’ yang berati tubuh yang memberikan cahaya. Deskripisi ini sempurna dan cocok dengan sifat sebenarnya bulan yang tidak mengeluarkan cahayanya sendiri dan tubuhnya sebagai materi pemantul cahaya matahari. Al-Qur’an tidak pernah menyebut bulan sebagai ‘siraj’, ‘wahhaj’ atau ‘diya’. Begitu pula sebaliknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebut matahari sebagai ‘nuur’ atau ‘muniir’. Hal ini menandakan bahwa Al-Qur’an mengakui perbedaan sifat antara sinar matahari dan cahaya bulan.

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

Terjemahan:
"Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” (Q.S Nuh: 16)

Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Monday, 20 February 2017

Partikel Sub Atom yang Disebutkan Dalam Al-Qur'an

Source: WPCLipart.com

Pada zaman dahulu merebak sebuah teori yang dikenal luas dengan Teori Atom. Teori ini awalnya digagas oleh seorang Yunani yang hidup sekitar 23 abad yang lalu bernama Democritus. Democritus beserta orang-orang setelahnya mengasumsikan bahwa satuan terkecil materi adalah atom. Orang Arab pun berpendapat demikian juga.

Kata ‘dharrah’ dalam bahasa Arab sering diartikan dengna atom. Seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan modern menemukan bawha ada kemungkinan atom masih bisa dibagi lagi. Pekembangan ilmu pengetahuan di abad ke-20 bahkan mengatakan bahwa atom masih bisa terbelah lagi menjadi beberapa partikel yang lebih kecil lagi.

Namun, Al-Qur’an 14 abad yang lalu telah membantah hal ini. Sifat Allah yang Maha Tahu diperlihatkan lewat ayat berikut yang secara gamblang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih kecil dari atom. Masya Allah.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Terjemahan:
“Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)". (Q.S Saba’: 3)

(Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)



Sunday, 19 February 2017

Keberadaan Materi Antar Bintang


Ruang di laur sistem Astronomi sebelumnya diasumsikan vakum (kosong). Ahli Astrofisika kemudian menemukan adanya jembatan materi dalam ruang antar bintang. Jembatan-jembatan materi itu disebut plasma. Plasma terdiri dari gas yang telah terionisasi secara sempurna dan mengandung sejumlah elektron bebas yang sama serta ion positif. Plasma sering disebut-sebut sebagai zat keempat (selain padat, cair, dan gas). Al-Qur’an telah menyebutkannya dalam ayat berikut:

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا

Terjemahan:
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia”. (Q.S Al Furqon: 29)

(Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Saturday, 18 February 2017

Alam Semesta Yang Terus Berkembang


Pada tahun 1925, Edwin Hubble, seorang Astronom dari Amerika Serikat mempersembahkan sebuah bukti pengamatannya bahwa semua galaksi bergerak saling menjauh antara satu dengan yang lain, menyiratkan bahwa alam semesta senantiasa berkembang dan mengalami perluasan. Ternyata Al-Qur’an telah menyebutkan sifat alam semesta ini dalam ayat berikut:

                                        وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنّا لَمُوسِعُونَ
Terjemahan:
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (Q.S Adz-Dzariyat: 47)

Kata “muusi’un” dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan memperluas dan ini mengacu pada penciptaan dan perluasan alam semesta. Stephen Hawking dalam bukunya berjudul ‘A Brief History of Time’ menyebutkan: “Penemuan fakta ilmiah bahwa alam semesta senantiasa berkembang adalah sebuah revolusi intelektual abad ke-20”. Al-Qur’an telah menyebukan dakta ilmiah ini jauh sebelum manusia membuat sebuah teleskop. Masya Allah.

(Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Thursday, 16 February 2017

Teori Penciptaan Alam Semesta Telah Disebutkan Dalam Al-Qur'an

Teori terciptanya alam semesta telah dijelaskan oleh para ahli geofisika dengan fenomena yang dikenal luas dengan nama teori 'Big Bang', teori yang didukung oleh data observasi dan eksperimen yang dikumpulkan oleh para astronom dan astrofisika dalam beberapa dekade. Menurut teori 'Big Bang', seluruh alam semesta pada awalnya berbentuk massa yang besar (disebut Nebula Primer). Kemudian, terjadilah 'Big Bang' (Ledakan Pemisah Sekunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi yang berikutnya terbentuk dan terbagi dalam bentuk bintang, planet, matahari, bulan dan benda langit lainnya. Berkenaan dengan fakta ini, Al-Qur'an telah berbicara lebih dahulu dalam sautu ayat:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Terjemahan:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Q.S Al-Anbiya: 30)

Para ilmuwan mengatakan bahwa sebelum galaksi di alam semesta terbentuk, pada awalnya semua berbentuk materi gas atau awan dalam jumlah sangat besar. Untuk mendeskripsikan istilah benda angkasa ini, penggunaan kata 'asap' lebih tepat daripada gas, sebagaimana Al-Qur'an yang menggunakan kata 'dukhan' (asap) yang terdapat dalam beberapa ayat, salah satunya terdapat pada ayat berikut:

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

Terjemahan:
"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan patuh". (Q.S Fushilat: 11)

(Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)