Bismillah

Bismillah
Awali aktivitas anda di blog ini dengan do'a di atas :)

Wednesday, 22 February 2017

Gunung, Pasak Penjaga Stabilitas Bumi

Source: www.nationmultimedia.com

Dalam ilmu geologi, fenomena “lipatan” adalah sebuah fakta ilmiah yang belum lama ditemukan. Lipatan yang terjadi mengakibatkan terbentuknya pegunungan. Bumi tersusun atas beberapa lapisan. Bagian permukaan tempat kita hidup saat ini disebut kerak bumi, tersusun ibarat sebuah kulit yang padat. Sedangkan pada bagian dasarnya berupa cairan yang panas sehingga tidak memungkinkan terdapat kehidupan.

Diketahui juga bahwa stabilitas pegunnungan terkait dengan fenomena lipatan. Ahli geologi menyebutkan bahwa jari-jari Bumi sekitatr 3.750 mil dan lapisan kerak bumi tempat kita berpijak sangatlah tipis, hanya berkisar 1-30 mil. Karena tipisnya lapisan kerak tempat kita berpijak, maka kemungkinan untuk mengalami getaran sangat tinggi. Disinilah peran pegunungan sebagai pasak bagi kerak Bumi sehingga memberikan stabilitas bagi daratan tempat kita hidup.

Al-Qur’an dengan sempurna mendeskripsikan fenomena ini dalam ayat berikut:

(أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا(6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا(7

Terjemahan:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak. (Q.S An-Naba: 6-7)


Kata ‘awtad’ berarti pancang atau pasak (seperti yang biasa digunakan untuk mendirikan tenda), yang merupakan bagian dari sebuah lipatan. Frank Press melalui bukunya yang berjudul “Earth”, sebuah buku yang menjadi referensi dari displin ilmu geologi pada banyak universitas di dunia, menggambarkan gunung berbentuk seperti pasak. Dimana permukaan gunung yang sering kita lihat hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan gunung itu sendiri. Pada bagian bawah permukaan tanah, gunung tampak seperti akar yang menghujam sangat kuat. Press mengatakan bahwa pegunungan memainkan peran penting dalam menstabilkan kerak Bumi. Namun, sekali lagi Al-Qur’an telah lebih dahulu menyebutkan hal ini berabad-abad yang lalu melalui ayat berikut:

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

Terjemahan:
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (Q.S Al-Anbiya: 31)

Masya Allah, segala puji bagi Allah atas segala keluasan ilmu-Nya.

Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Hadits 'Arbain ke-20: "Milikilah Sifat Malu"

source: onedio.co

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ
 قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
[رواه البخاري ]

Terjemahan:
'Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan Nabi-nabi terdahulu adalah: "Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka."(Riwayat Bukhari)

Catatan Hadits:
1.Malu merupakan tema yang telah disepakati oleh para Nabi dan tidak terhapus ajarannya.
2.Jika seseorang telah meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun.
3.Malu merupakan landasan akhlak mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan.
4.Siapa yang banyak malunya lebih banyak kebaikannya, dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit kebaikannya.
5.Rasa malu merupakan prilaku dan dapat dibentuk. Maka setiap orang yang memiliki tanggung jawab hendaknya memperhatikan bimbingan terhadap mereka yang menjadi tanggung jawabnya. 6.Tidak ada rasa malu dalam mengajarkan hukum-hukum agama serta menuntut ilmu dan kebenaran. Allah ta’ala berfirman: “Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar...“ (Q.S Al-Ahzab: 53). Diantara manfaat rasa malu adalah ‘Iffah (menjaga diri dari perbuatan tercela) dan Wafa’ (menepati janji)
7.Rasa malu merupakan cabang iman yang wajib diwujudkan.

Tuesday, 21 February 2017

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Ditinggal Pergi Ketika Berkhutbah

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Terjemahan:
“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Q.S Al-Jumu’ah: 11)

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari Jum’at, sebuah kafilah dagang dari Syam tiba. Orang-orang keluar menjemput rombongan dagang kafilah itu sehingga yang tinggal di dalam masjid hanya dua belas orang. Maka turnnlah ayat tersebut yang menegaskan bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada perniagaan. (As-Suyuthi, 2002)

(Sumber: Mengerti Asbabun Nuzul, Muhammad Chirzin, dengan beberapa perubahan redaksi)

Sinar Bulan Merupakan Pantulan Cahaya Matahari



Peradaban dahulu meyakini bahwa bulan memancarkan cahayanya sendiri. Namun, seiring dengan perkembagnan ilmu penegtahuan, diketahui bahwa cahaya bulan merupakan pantulan cahaya. Tahukah anda, bahwa fakta ini telah disebutkann dalam Al-Qur’an 1.400 tahun silam dalam ayat berikut:

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا

Terjemahan:
“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (Q.S Al Furqon: 61)

Kata untuk menunjuk matahari dalam bahasa Arab (Al-Qur’an) adalah syams. Kata ini bererti ‘siraj’ yang bermakna obor; ‘wahhaj’ yang bermakna lampu menyala; atau ‘diya’ yang bermakna sinar kemuliaan. Tiga deskripsi ini tepat untuk menyebut matahari karena ia menghasilkan panas dan cahaya oleh pembakaran internal.

Sedangkan kata bulan dalam bahasa Arab yang digunkan dalam Al-Qur’an adalah qamar. Kata ini dijelaskan Al-Qur’an sebagai ‘muniir’ yang berati tubuh yang memberikan cahaya. Deskripisi ini sempurna dan cocok dengan sifat sebenarnya bulan yang tidak mengeluarkan cahayanya sendiri dan tubuhnya sebagai materi pemantul cahaya matahari. Al-Qur’an tidak pernah menyebut bulan sebagai ‘siraj’, ‘wahhaj’ atau ‘diya’. Begitu pula sebaliknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebut matahari sebagai ‘nuur’ atau ‘muniir’. Hal ini menandakan bahwa Al-Qur’an mengakui perbedaan sifat antara sinar matahari dan cahaya bulan.

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

Terjemahan:
"Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” (Q.S Nuh: 16)

Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Hadits 'Arbain ke-19: "Mintalah Pertolongan Kepada Allah"

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُف
رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير]
 الترمذي: احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

Terjemahan:
"Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata: "Suatu saat saya berada dibelakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: "Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: "Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering." 

(Riwayat Tirmidzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih. Dalam sebuah riwayat selain Tirmidzi dikatakan: "Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yang ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan"). 

Catatan:
1.Perhatian Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam mengarahkan umatnya serta menyiapkan generasi mu’min idaman.
2.Termasuk adab pengajaran adalah menarik perhatian pelajar agar timbul keinginannya terhadap pengetahuan sehingga hal tersebut lebih terkesan dalam dirinya.
3.Siapa yang konsekwen melaksanakan perintah-perintah Allah, nicsaya Allah akan menjaganya di dunia dan akhirat.
4.Beramal shaleh serta melaksanakan perintah Allah dapat menolak bencana dan mengeluarkan seseorang dari kesulitan.
5.Tidak mengarahkan permintaan apapun (yang tidak dapat dilakukan makhluk) selain kepada Allah semata.
6.Manusia tidak akan mengalami musibah kecuali berdasarkan ketetapan Allah ta’ala. 
7.Menghormati waktu dan menggunakannya kepada sesuatu yang bermanfaat sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanfaatkan waktunya saat beliau berkendaraan.

Monday, 20 February 2017

Pezina Hanya Layak untuk Pezina atau Musyrik

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan:
“Laki-laki yang pezina tidak boleh menikah kecuali dengan perempuan pezina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan pezina tidak boleh menikah kecuali dengan laki-laki yang pezina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (Q.S An-Nur: 3)

Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Mazid biasa membawa barang dagangan ke Makkah. Di sana ia bertemu kawannya, seorang wanita bernama Anaq (yang dikenal sebagai pezina). Ia meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikahinya. Beliau tidak menjawabnya sehingga Allah menurunkan ayat ini. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hai, Mazid! Pezina tidak akan menikah kecuali dengan pezina. Karena itu, janganlah kau menikah dengannya.” (As-Suyuthi, 2002)

Islam menghalalkan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan di dalam ikatan pernikahan. Sama halnya, orang yang putus dari pernikahan, baik karena perceraian maupun karena kematian, harus menjaga kehormatan dirinya dengan tidak melakukan zina. Orang yang melakukan zina berarti telah mengkhianati ikatan perkawinan dan tidak tergolong manusia terhormat. (Ali, 1993)

(Sumber: Mengerti Asbabun Nuzul, Muhammad Chirzin, dengan beberapa perubahan redaksi)

Hadits 'Arbain ke-18: "Kebaikan Menghapus Kesalahan"

 عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ 
[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح] 

Terjemahan:
"Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda: "Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik“.
(Riwayat Tirmidzi, dia berkata haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih)

*Catatan hadits:
1.Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan dia merupakan asas diterimanya amal shalih.
2.Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
3.Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.
4.Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.

Hadits 'Arbain ke-15: "Berkata yang Baik Atau Diam"

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]


Terjemahan:
"Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya."
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

*Catatan hadits:
1.Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.
2.Menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu masyarakat muslim.
3.Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.
4.Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.
5.Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.
6.Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.
7.Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangganya dan memperhatikanya serta tidak menyakitinya.
8.Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan ber-'amar ma’ruf nahi munkar'.
9.Memuliakan tamu termasuk diantara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.
10.Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan baik.

Partikel Sub Atom yang Disebutkan Dalam Al-Qur'an

Source: WPCLipart.com

Pada zaman dahulu merebak sebuah teori yang dikenal luas dengan Teori Atom. Teori ini awalnya digagas oleh seorang Yunani yang hidup sekitar 23 abad yang lalu bernama Democritus. Democritus beserta orang-orang setelahnya mengasumsikan bahwa satuan terkecil materi adalah atom. Orang Arab pun berpendapat demikian juga.

Kata ‘dharrah’ dalam bahasa Arab sering diartikan dengna atom. Seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan modern menemukan bawha ada kemungkinan atom masih bisa dibagi lagi. Pekembangan ilmu pengetahuan di abad ke-20 bahkan mengatakan bahwa atom masih bisa terbelah lagi menjadi beberapa partikel yang lebih kecil lagi.

Namun, Al-Qur’an 14 abad yang lalu telah membantah hal ini. Sifat Allah yang Maha Tahu diperlihatkan lewat ayat berikut yang secara gamblang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih kecil dari atom. Masya Allah.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Terjemahan:
“Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)". (Q.S Saba’: 3)

(Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)



Sunday, 19 February 2017

Hadits Arbain ke-17: Berbuat Baik Dalam Segala Hal

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّاد ابْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ 
[رواه مسلم]

Terjemahan:
"Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya."
(Riwayat Muslim)

Catatan:
1.Syariat Islam menuntut perbuatan ihsan kepada setiap makhluk termasuk diantaranya adalah hewan.
2.Tidak boleh menyiksa dan merusak tubuh sebagai sasaran dan tujuan, tidak juga boleh menyayat-nyayat orang yang dihukum qishash.
3.Termasuk ihsan juga berbuat baik terhadap hewan ternak dan belas kasih terhadapnya.
4.Tidak boleh membebaninya diluar kemampuannya serta tidak menyiksanya saat menyembelihnya.

Perintah Mengenakan Jilbab

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Terjemahan:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S Al Ahzab: 59)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa ia berkata: “Setelah turun ayat hijab, Saudah radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, keluar rumah untuk suatu keperluan. Tubuhnya yang tinggi dan besar membuatnya mudah dikenali diantara kaum wanita yang lain. Ketika ia berjalan, Umar radhiallahu ‘anhu melihatnya dan berkata: “Hai Saudah, demi Allah, kami dapat mengenalimu dengan mudah. Jadi, untuk urusan apa kau keluar?” Ia pun bergegas pulang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Pada saat yang sama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam sedang makan di rumah Aisyah radhiallahu ‘anha. Ketika masuk, Saudah radhiallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, aku keluar untuk suatu keperluan, dan Umar menegurku.” Karena peristiwa itulah turun ayat ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengizinkamu keluar rumah untuk suatu keperluan.” (As-Suyuthi, 2002)

Ayat ini ditujukan kepada semua muslimah, baik anggota keluarga Nabi atau pun bukan. Pada masa itu, kedudukan kaum muslim belum kuat. Musuh-musuh Islam dari berbagai pihak, baik musyrik Makkah maupun Yahudi dan munafik di Madinah, terus melakukan berbagai upaya untuk menyerang dan menyakiti kaum beriman, terlebih lagi kaum wanita yang lemah. Mereka sering mencela dan mengolok-olok para wanita muslim yang mereka temui di luar rumah, baik di pasar maupun di jalan-jalan.

Karena itulah Umar menegur Saudah radhiallahu ‘anha ketika ia keluar rumah karena dikhawatirkan istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam itu disakiti oleh kaum Yahudi atau kaum munafik. Namun, Allah tidak melarang mereka keluar rumah. Hanya saja, melalui ayat di atas, Allah memerintahkan agar kaum wanita mukmin mengenakan jilbab ketika keluar rumah atau bepergian ke tempat lain. Tujuannya bukan untuk membatasi kebebasan mereka, melainkan untuk melindungi mereka dari gangguan dan perlakuan tidak baik dari orang-orang yang dengki kepada mereka. (Ali, 1993)

(Sumber: Mengerti Asbabun Nuzul, Muhammad Chirzin, dengan beberapa perubahan redaksi)

Keberadaan Materi Antar Bintang


Ruang di laur sistem Astronomi sebelumnya diasumsikan vakum (kosong). Ahli Astrofisika kemudian menemukan adanya jembatan materi dalam ruang antar bintang. Jembatan-jembatan materi itu disebut plasma. Plasma terdiri dari gas yang telah terionisasi secara sempurna dan mengandung sejumlah elektron bebas yang sama serta ion positif. Plasma sering disebut-sebut sebagai zat keempat (selain padat, cair, dan gas). Al-Qur’an telah menyebutkannya dalam ayat berikut:

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا

Terjemahan:
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia”. (Q.S Al Furqon: 29)

(Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Saturday, 18 February 2017

Hadits 'Arbain ke-16 - Jangan Marah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ 
[رواه البخاري]

Terjemahan:
"Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda: Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda: Jangan engkau marah".
(Riwayat Bukhari)

Catatan:
1. Anjuran bagi setiap muslim untuk memberikan nasihat dan mengenal perbuatan-perbuatan kebajikan, menambah wawasan ilmu yang bermanfaat serta memberikan nasihat yang baik.
2. Larangan marah. 
3. Dianjurkan untuk mengulangi pembicaraan hingga pendengar menyadari pentingnya dan kedudukannya.

Alam Semesta Yang Terus Berkembang


Pada tahun 1925, Edwin Hubble, seorang Astronom dari Amerika Serikat mempersembahkan sebuah bukti pengamatannya bahwa semua galaksi bergerak saling menjauh antara satu dengan yang lain, menyiratkan bahwa alam semesta senantiasa berkembang dan mengalami perluasan. Ternyata Al-Qur’an telah menyebutkan sifat alam semesta ini dalam ayat berikut:

                                        وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنّا لَمُوسِعُونَ
Terjemahan:
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (Q.S Adz-Dzariyat: 47)

Kata “muusi’un” dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan memperluas dan ini mengacu pada penciptaan dan perluasan alam semesta. Stephen Hawking dalam bukunya berjudul ‘A Brief History of Time’ menyebutkan: “Penemuan fakta ilmiah bahwa alam semesta senantiasa berkembang adalah sebuah revolusi intelektual abad ke-20”. Al-Qur’an telah menyebukan dakta ilmiah ini jauh sebelum manusia membuat sebuah teleskop. Masya Allah.

(Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Thursday, 16 February 2017

Teori Penciptaan Alam Semesta Telah Disebutkan Dalam Al-Qur'an

Teori terciptanya alam semesta telah dijelaskan oleh para ahli geofisika dengan fenomena yang dikenal luas dengan nama teori 'Big Bang', teori yang didukung oleh data observasi dan eksperimen yang dikumpulkan oleh para astronom dan astrofisika dalam beberapa dekade. Menurut teori 'Big Bang', seluruh alam semesta pada awalnya berbentuk massa yang besar (disebut Nebula Primer). Kemudian, terjadilah 'Big Bang' (Ledakan Pemisah Sekunder) yang mengakibatkan pembentukan galaksi yang berikutnya terbentuk dan terbagi dalam bentuk bintang, planet, matahari, bulan dan benda langit lainnya. Berkenaan dengan fakta ini, Al-Qur'an telah berbicara lebih dahulu dalam sautu ayat:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Terjemahan:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Q.S Al-Anbiya: 30)

Para ilmuwan mengatakan bahwa sebelum galaksi di alam semesta terbentuk, pada awalnya semua berbentuk materi gas atau awan dalam jumlah sangat besar. Untuk mendeskripsikan istilah benda angkasa ini, penggunaan kata 'asap' lebih tepat daripada gas, sebagaimana Al-Qur'an yang menggunakan kata 'dukhan' (asap) yang terdapat dalam beberapa ayat, salah satunya terdapat pada ayat berikut:

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

Terjemahan:
"Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan patuh". (Q.S Fushilat: 11)

(Sumber: Miracles of Al-Qur'an & As-Sunnah, Zakir Naik. Dengan beberapa perubahan redaksi)

Perbandingan Kekuatan Seorang Mukmin

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِن يَّكُن مِّنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِّنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَفْقَهُونَالْئَانَ (65) خَفَّفَ اللهُ عَنكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنيَكُنْ مِّنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (66)6

Terjemahan:
"Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui padamu bahwa ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". [Al Anfal :65-66]

Ishaq ibn Rawaih meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa ketika turun ayat 65 surah Al-Anfal, yang memerintahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengerahkan kaum muslim berperang dengan perbandingan satu melawan sepuluh, mereka merasa keberatan sehingga Allah Subhanahu wa ta'ala menurunkan ayat berikutnya yang memberi mereka keringanan dengan menurunkan perbandingan satu melawan dua musuh (Al-Suyuthi, 2002).

(Sumber: Mengerti Asbabun Nuzul, Muhammad Chirzin, dengan beberapa perubahan redaksi)


Tuesday, 24 January 2017

Hadits Arbain ke-14: Larangan Membunuh, Berzina, dan Murtad

 عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ : الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
[رواه البخاري ومسلم]

Terjemahan Hadits:
"Dari Ibnu Mas’ud radiallahuanhu dia berkata: "Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) adalah utusan Allah kecuali dengan tiga sebab: Orang tua yang berzina, membunuh orang lain (dengan sengaja), dan meninggalkan agamanya berpisah dari jamaahnya". (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Catatan:
1.Tidak boleh menumpahkan darah kaum muslimin kecuali dengan tiga sebab, yaitu : zina muhshon (orang yang sudah menikah), membunuh manusia dengan sengaja dan meninggalkan agamanya (murtad) berpisah dari jamaah kaum muslimin.
2.Islam sangat menjaga kehormatan, nyawa dan agama dengan menjatuhkan hukuman mati kepada mereka yang mengganggunya seperti dengan melakukan zina, pembunuhan dan murtad. 3.Sesungguhnya agama yang disepakati adalah yang dipegang oleh jamaah kaum muslimin, maka wajib dijaga dan tidak boleh keluar darinya.
4.Hukum pidana dalam Islam sangat keras, hal itu bertujuan untuk mencegah (preventif) dan melindungi.
5.Pendidikan bagi masyarakat untuk takut kepada Allah ta’ala dan selalu merasa terawasi oleh-Nya dan keadaan tersembunyi atau terbuka sebelum dilaksanakannya hukuman.
6.Hadits diatas menunjukkan pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian.
7.Dalam hadits tersebut merupakan ancaman bagi siapa yang membunuh manusia yang diharamkan oleh Allah ta’ala.

Tuesday, 17 January 2017

Hadits Arbain ke-13: "Mencintai Saudara"

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه
[رواه البخاري ومسلم]

Terjemahan Hadits:
"Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri".
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Catatan:
1.Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri.
2.Menjauhkan perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman.
3.Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
4.Anjuran untuk menyatukan hati.

Hadits Arbain no.12: "Meniggalkan yang Tidak Bermanfaat"

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
[حديث حسن رواه الترمذي وغيره هكذا]

Terjemahan Hadits:
"Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya." (Hadist Hasan Riwayat Tirmidzi dan lainnya)

Catatan:
1. Termasuk sifat-sifat orang muslim adalah dia menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang mulia serta menjauhkan perkara yang hina dan rendah.
2. Pendidikan bagi diri dan perawatannya dengan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat didalamnya.
3. Menyibukkkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah kesia-siaan dan merupakan pertanda kelemahan iman.
4. Anjuran untuk memanfaatkan waktu dengan sesuatu yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri bagi dunia maupun akhirat.
5. Ikut campur terhadap sesuatu yang bukan urusannya dapat mengakibatkan kepada perpecahan dan pertikaian diantara manusia.

Hadits Arbain ke-11: "Tinggalkanlah Keragu-Raguan"

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَلِي بْنِ أبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ .
 [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Terjemahan Hadits:
"Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan kesayangannya dia berkata: "Saya menghafal dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam (sabdanya): "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu".
(Riwayat Tarmidzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shoheh)

Catatan:
1. Meninggalkan syubhat dan mengambil yang halal akan melahirkan sikap wara’ (hati-hati).
2. Keluar dari ikhtilaf ulama lebih utama karena hal tersebut lebih terhindar dari perbuatan syubhat, khususnya jika diantara pendapat mereka tidak ada yang dapat dikuatkan.
3. Jika keraguan bertentangan dengan keyakinan maka keyakinan yang diambil.
4. Sebuah perkara harus jelas berdasarkan keyakinan dan ketenangan. Tidak ada harganya keraguan dan kebimbangan.
5.Berhati-hati dari sikap meremehkan terhadap urusan agama dan masalah bid’ah.
6.Siapa yang membiasakan perkara syubhat maka dia akan berani melakukan perbuatan yang haram